FA pun akhirnya ditetapkan oleh kepolisian sebagai tersangka terkait kicauan rasisme di jejaring sosial twitter. Sementara FA masih bisa bernafas lega, karena pihak kepolisian tidak langsung menahan FA, walaupun ustad Ramdhan Effendi mendesak kepolisian agar melakukan penahanan terhadap FA.
Saya pribadi berpendapat bahwa tidak ada ugensinya menyertakan ras seseorang ketika menyebut nama dan jabatan, kecuali memang dengan tujuan menonjolkan unsur ras - karena pada realitanya penyebutan ras yang menyertai nama atau jabatan memang tidak umum dan biasanya tidak dalam konteks yang bersahabat.
Terjeratnya FA pada pasal rasisme yang ditujukan pada wagub DKI Basuki Tjahya Purnama alias Ahok adalah berdasarkan laporan dari ustad Ramdhan Effendi atau yang biasa dikenal sebagai Anton Medan. Anton Medan sendiri adalah ketua PITI - Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang dulunya bernama Pembina Iman Tauhid Islam. Baik Persatuan Islam Tionghoa Indonesia maupun Pembina Iman Tauhid Islam keduanya tetap muncul dalam logo resmi PITI.
Anton Medan melaporkan FA karena sebagai seorang muslim tionghoa, Anton Medan melihat FA sering menebar kicauan rasis dan kebencian etnis, sehingga Anton Medan, merasa perlu menjadikan ini sebagai sebuah pelajaran bagi FA agar tidak terus melanjutkan kebiasaan mengumbar kebencian etnis. Jadi, walaupun kicauan bernada rasis tersebut ditujukan kepada wagub DKI Ahok, akan tetapi bukan Ahok yang melaporkan FA ke pihak kepolisian. Namun demikian, setelah FA ditetapkan sebagai tersangka, FA terus melancarkan kicauan yang terus menyudutkan wagub DKI seakan Ahok yang telah melaporkan dirinya.
Akibat dari ditetapkannya sebagai tersangka, FA pun terancam dicoret dari daftar caleg partai Demokrat untuk pemilu 2014, sebagaimana dinyatakan oleh petinggi partai Demokrat, bahwa dengan status sebagai tersangka maka FA tidak memenuhi pakta integritas partai Demokrat.
FA pun terjepit pada sebuah dilema, jika Anton Medan tidak mencabut laporannya, akan menyebabkan dirinya dicoret dari daftar caleg. Namun agar Anton Medan mau mencabut laporannya, dirinya harus rela mengorbankan gengsinya dengan meminta maaf pada Ahok dan Anton Medan. FA pun akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada yang agaknya dengan setengah hati, karena permintaan maaf dilakukan lewat media, bukan dengan terlebih dahulu mendatangi orang-orang yang terkait masalah ini.
Berbagai kritik pun kembali menyambangi FA karena dianggap tidak sepenuh hati dalam meminta maaf. Hingga akhirnya FA berjanji bahwa dia akan mendatangi orang-orang yang terkait, Ahok dan Anton Medan untuk meminta maaf secara langsung, face to face.
Beberapa waktu lalu, saya sempat membalas kicauan FA di @farhatabbaslaw, saya sampaikan jalan sederhana untuk menyelesaikan masalah ini. Cukup datangi wagub Ahok, sampaikan permintaan maaf yang tulus, dan minta tolong pada Ahok untuk meminta Anton Medan mencabut laporan tersebut.
Saya yakin Anton Medan juga sesungguhnya menunggu FA melakukan seperti yang saya sarankan kepada FA. Karena Anton Medan hanya menginginkan FA belajar untuk mengalahkan egonya sendiri. Lagipula Ahok sebagai korban utama dalam kasus kicauan rasis tersebut adalah orang yang paling menentukan dan paling berhak meminta Anton Medan untuk mencabut laporan tersebut. Jika Ahok yang meminta pada Anton Medan, saya yakin urusan selesai pada detik itu juga.
Sayangnya gengsi terlalu besar membuat FA bertahan hingga akhirnya dirinya terjepit ketika dirinya terancam dicoret dari daftar caleg partai Demokrat. FA kembali menempatkan dirinya pada posisi yang tidak menguntungkan. Kalaupun FA akhirnya meminta maaf secara langsung pada Ahok dan Anton Medan, dan berhasil meminta Anton Medan mencabut dukungannya, permintaan maaf FA menjadi kehilangan nilai dimata masyarakat, karena akan dianggap meminta maaf hanya agar dirinya tidak tercoret dari daftar caleg partai Demokrat.
Andai saja, FA mau mengesampingkan gengsinya dan meminta maaf sebelum partai Demokrat menyatakan akan mencoret dirinya dari daftar caleg, tentu permintaan maaf FA akan mendapat nilai plus di mata masyarakat. Permintaan maaf pada saat dirinya terancam tercoret, menimbulkan asumsi bahwa permintaan maaf FA lebih karena kepentingan politik daripada karena menyadari kesalahannya.
sumber : http://politik.kompasiana.com/
















